
Berbagai krisis sedang melanda dunia saat ini, sehingga mulai timbul ketimpangan sosial dan kerusakan lingkungan. Di tengah tantangan tersebut, The Economy of Francesco (EoF) hadir sebagai sebuah gerakan yang mendorong terciptanya ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan, dengan universitas-universitas Katolik memainkan peran strategis dalam mewujudkan visinya. Universitas Katolik Parahyangan melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan pihak pastoral sebagai langkah mewujudkan implementasi Economy of Francesco (EoF) dalam lingkungan akademik dan pastoral.
Diskusi yang diselenggarakan pada Kamis, 23 Juli 2026 turut dihadiri oleh Ketua Pusat Studi Administrasi Bisnis (CEBIS), Ketua Pusat Studi I-Sustain, Kepala Pusat Studi CHuDS, dan Kepala Pusat Studi dari program studi pada Fakultas Ekonomi Universitas Katolik Parahyangan. Kesuksesan pertemuan ini tidak terlepas dari peran narasumber dari Tim Riset LPPM, yang diwakili oleh Dr. Orpha Jane, S.Sos., M.M. selaku dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik beserta timnya dan Litbang Keuskupan, yang diwakili oleh Bapak Ibrahim Aryon. Diskusi juga diperkaya oleh Ricardo Flores dari Economy of Francesco Foundation sebagai narasumber.
Economy of Francesco telah menjadi landasan teologis dan konseptual bagi kegiatan pastoral. Namun, masih terdapat keterbatasan dalam implementasinya, yang masih terbatas pada kegiatan yang bersifat event-based serta belum adanya sistem pembinaan yang terstruktur dan berkelanjutan, sehingga nilai-nilai tersebut sulit ditransformasikan menjadi kebiasaan yang bertahan dalam jangka panjang. Saat ini, berbagai universitas Katolik telah mempromosikan Economy of Francesco melalui integrasi ke dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, proses pembelajaran dan pengajaran, serta kolaborasi lintas sektor. Meskipun demikian, penerapannya masih terpisah-pisah dan belum menjadi bagian yang menyatu dalam sistem universitas.
Oleh karena itu, melalui diskusi, universitas Katolik direkomendasikan untuk mengintegrasikan nilai-nilai Economy of Francesco ke dalam seluruh kebijakan institusi sehingga dapat membangun budaya kampus yang berkelanjutan serta memperkuat kolaborasi antara komunitas akademik dan pastoral. Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) berencana untuk mendirikan Economy of Francesco Hub di UNPAR melalui pusat penelitian yang sudah ada, dan berbagai strategi implementasi lain.
Pada akhirnya, diskusi menegaskan bahwa implementasi Economy of Francesco tidak cukup berhenti pada wacana atau kegiatan sesaat, tetapi perlu diwujudkan melalui kolaborasi yang terstruktur dan berkelanjutan agar ilmu pengetahuan, pelayanan, dan pemberdayaan masyarakat dapat bersama-sama menghasilkan perubahan yang nyata. Untuk mewujudkannya, dibutuhkan kolaborasi antara universitas, Gereja, dan para pemangku kepentingan di masyarakat.

