Saat Teori Bertemu Realita: Pengalaman Seru Terjun Langsung ke UMKM Lewat Program SEED The Philippines 2025

“Kadang, pembelajaran terbesar justru datang dari tempat yang tidak pernah kita rencanakan.”

Halo, perkenalkan saya Theresia, seorang mahasiswa tingkat dua administrasi bisnis Universitas Katolik Parahyangan. Sejak awal saya memutuskan untuk berkuliah bisnis, saya selalu percaya bahwa belajar bisnis tidak cukup jika hanya duduk di kelas, mencatat dan menghafalkan konsep, namun harus benar-benar terjun ke lapangan untuk terlibat dalam proses bisnis itu sendiri. Dan pada akhirnya tahun ini, tepatnya pada bulan November yang lalu selama 10 hari, saya bisa merasakan pengalaman belajar di luar kelas itu lewat program SEED The Philippines 2025. Jujur, saya tidak pernah menyangka bahwa perjalanan 10 hari ke Filipina bersama 2 delegasi Unpar lainnya yaitu Davian Abbot (Management Unpar ‘25) dan Eldomilano (Management Unpar S2) lewat SEED Philippines 2025 bisa memberikan begitu banyak perubahan dalam cara saya melihat dunia bisnis, dan bahkan diri saya sendiri. Sebagai mahasiswa Administrasi Bisnis yang terbiasa belajar lewat kelas, slide, dan tugas-tugas, mengikuti program ini seperti membuka pintu ke dunia lain: dunia di mana teori akhirnya bertemu realita. Sejak hari pertama, saya sudah merasa bahwa pengalaman ini akan berbeda. Bertemu teman-teman dari berbagai negara, fasilitator dari San Beda University, jadwal penuh aktivitas lapangan, dan kultur Filipina yang hangat, semuanya langsung menarik saya keluar dari zona nyaman.

Bagian paling berkesan dari program ini adalah ketika kelompok saya mendapatkan kesempatan untuk bekerja langsung dengan salah satu UMKM lokal di Cainta, yaitu Hannah and Susana’s Cocina, sebuah usaha kuliner rumahan yang menjadi kebanggaan masyarakat sekitar. Lokasinya berada di jantung Cainta, daerah yang padat dan penuh interaksi sosial, membuat kami lebih mudah melihat bagaimana bisnis kecil seperti ini beroperasi dari hari ke hari. Di sinilah teori bisnis yang selama ini hanya saya lihat di materi powerpoint, seperti SWOT, PESTEL, hingga McKinsey’s 7S, akhirnya terasa hidup.


Kami mewawancarai pemilik usaha, yaitu Nanay Amelia dan Susana, melihat langsung cara kerja mereka, mengamati perilaku konsumen, hingga mempelajari pola belanja masyarakat di sekitar Republic of Rizal. Kehidupan di Cainta yang penuh dinamika memberi kami konteks yang tidak mungkin didapat hanya dari kelas. Untuk pertama kalinya, saya benar-benar paham bahwa bisnis bukan hanya soal strategi, tetapi tentang orang, konteks, dan cerita yang membentuk sebuah usaha.
Selain belajar dari UMKM lokal, saya juga belajar dari rekan-rekan satu tim yang berasal dari berbagai negara.Ternyata,setiap orang membawa perspektif, budaya kerja, dan gaya komunikasi yang berbeda. Awalnya saya sempat takut tidak bisa mengikuti ritme mereka, tapi pengalaman bekerja langsung di lapangan, terutama ketika menganalisis UMKM di Cainta, membuat kami cepat belajar saling memahami. Kami berdiskusi, berdebat, tertawa, dan mendukung satu sama lain. Kolaborasi ini menjadi pelajaran tersendiri tentang pentingnya empati, adaptasi, dan komunikasi.


Selain kegiatan akademik, kami juga sempat menjelajahi beberapa area sekitar Rizal dan Manila, dari pasar tradisional, Robinsons Mall, hingga pusat kota Bonifacio Global City. Ada banyak pengalaman lucu dan berkesan, termasuk saat HP saya ikut masuk laundry dan paspor saya sempat rusak. Aneh tapi nyata. Tapi justru momen-momen itulah yang membuat perjalanan kali ini penuh cerita uniknya. Puncak kegiatan adalah presentasi hasil analisis kami di hadapan para panelis terkait hasil diskusi dan solusi kami untuk UMKM Hannah and Susana’s Cocina. Walaupun menegangkan, saya merasa ini adalah momen di mana semua usaha kami terbayar. Kami tidak hanya memaparkan data, tetapi juga menyampaikan pemahaman mendalam tentang bisnis yang sudah kami kenal secara personal. Setelah itu, kami menutup acara dengan Cultural Performance, menampilkan budaya Indonesia bersama delegasi lain. Kami menampilkan berbagai macam penampilan kebudayaan, mengawali dengan puisi, lalu dilanjutkan dengan nyanyian Rayuan Pulau Kelapa, lalu tarian Maumere, Poco-poco hingga Tabola bale.


Dari program ini, saya membawa pulang lebih dari sekadar pengetahuan. Saya membawa: pemahaman bahwa bisnis dimulai dari kebutuhan manusia, pengalaman bekerja lintas budaya, keberanian untuk keluar dari zona nyaman, dan rasa bangga untuk menjadi bagian dari proses pemberdayaan UMKM. Bagi saya, SEED Philippines adalah perjalanan yang menjembatani ruang antara teori dan kehidupan nyata. Dan Cainta, dengan UMKM, orang-orang, dan ceritanya, menjadi tempat di mana saya benar-benar menyadari bahwa bisnis lebih dari sekedar profit, tapi juga dampak untuk masyarakat sekitar.